Tiba-tiba, kelima penyihir yang terikat oleh energi Lynx mulai bergetar. Tubuh mereka retak, pecah, dan berubah menjadi butiran pasir hitam yang mengalir perlahan ke lantai. Angin menghembus pelan, membawa pasir itu lenyap dalam pusaran kecil.

Lynx terdiam. Matanya menyipit tajam.

"Apa yang terjadi dengan mereka?" batinnya setelah memperhatikan ke sekitar.

Suara menggema memenuhi ruangan, tidak berasal dari satu arah, melainkan dari segala penjuru sekaligus. Dalamnya seperti berasal dari dunia lain.

"Lynx, sudah cukup untukmu bersenang-senang dengan duplikat kami. Belum waktunya kita berhadapan langsung. Nikmatilah dulu rasa sakit saat menyaksikan rekan-rekanmu binasa satu per satu..."

Lynx mengepalkan tinjunya. Aura dingin menyelimuti tubuhnya, tapi di balik itu, amarahnya memuncak.

“Penyihir sialan! Keluarlah! Aku akan menghancurkan tempat ini dan menyeret kalian dari sarangmu!”

Lynx lalu mengerahkan mata langit, dengan mata tembus pandang miliknya dia berusaha menemukan jejak para penyihir. Pada saat yang sama, ia mengerahkan energi spiritualnya untuk merasakan denyut energi tidak biasa, fluktuasi kekuatan, bahkan riak udara yang tidak normal.

Namun yang ia rasakan hanyalah kehampaan. Tidak ada satupun hal mencurigakan dia temukan.

"Aku tahu kalian masih mengawasiku," gumam Lynx dengan nada rendah, nyaris seperti desis maut. "Jika kalian tidak segera keluar... akan aku hancurkan tempat ini."

Seketika, energi iblis berlapiskan energi sakti memancar keluar dari tubuhnya bagaikan api yang membara dan dalam sekejap energi di tubuhnya meledak. Tanah bergetar, dinding-dinding retak dan berjatuhan.

Dengan satu hentakan kaki, Lynx meluncur ke permukaan tanah dengan sangat cepat. Tanah markas itu semakin berguncang keras akibat hentakan, dan meruntuhkan semua fondasi bangunan bawah tanah tersebut. Seluruh markas itu ambruk dalam hitungan detik menyatu dengan tanah.

Jauh dari lokasi itu, di benua yang berbeda namun tetap berada di dalam tanah, terdapat sebuah kamar yang luas. Dindingnya dipenuhi ribuan cermin-cermin sehingga sulit membedakan mana fisik asli yang muncul dari cermin tersebut. Kabut ungu melayang di udara, meninggalkan jejak sihir .

Namun anehnya, disalah satu cermin terdapat bayangan gambar yang berbeda dan tidak muncul di bagian cermin manapun seolah cermin lain tidak menangkap pantulan dari cermin tersebut. Di dalam pantulannya, tampak Lynx berdiri tepat di atas permukaan markas penyihir yang hancur, sorot matanya dingin dan penuh kemarahan.

Mira berdiri dengan anggun di hadapan cermin, jubah hitamnya berkibar pelan seolah diterpa angin tak kasatmata. Keempat penyihir lainnya berdiri ikut memandang cermin dari belakangnya.

"Kalian mengerti sekarang," ujar Mira dengan suara yang rendah dan tenang, tapi setiap kata mengandung tekanan. "Kekuatan kita belum cukup untuk menghadapi pemuda itu. Dia memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan sihir kita... Entah bagaimana, kekuatan yang dia miliki mengandung kekuatan sihir legendaris. Dan dia belum menyadarinya."

"Betul, Nyonya," kata Dina dengan kepala tertunduk. "Untungnya, Anda membuat duplikat kita untuk menjebaknya. Dan anda sudah memindahkan ruangan Anda ke tempat ini."

Mira mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari cermin.

"Ramalan sudah mengatakan kedatangan pemuda itu. Itu sebabnya aku menyiapkan formasi duplikat untuk mengujinya. Sayangnya, mereka hanya mampu menggunakan separuh kekuatan asli kita dan hanya bisa aktif di lokasi yang telah dipasangi formasi sihir."

Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Kalau tidak, kita tidak perlu mengandalkan para pengikut untuk menjalankan tugas penting. Tapi menggunakan sihir ini... menguras banyak kekuatanku."

Sari melipat tangan di dada, ekspresinya masih tak percaya. "Aku tidak menduga... para zodiak bisa dikalahkan semudah itu. Walaupun kekuatan mereka kurang dari separuhnya, tetapi bahkan Leo dan Taurus yang sangat kuat tak sempat memberi perlawanan penuh."

"Aku yakin aquarius tidak menerima kekalahannya apalagi Scorpio yang belum mengeluarkan kemampuan racunnya." Dina menambahkan.

Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat.

Kemudian Mira tersenyum. Senyum itu dingin. Matanya bersinar gelap, dan bayangannya di cermin seperti menari sendiri, terpisah dari tubuhnya.

"Setelah kita mendapatkan fragmen terakhir dari senjata iblis..." ucapnya pelan. "Kita akan menyatukan kekuatan itu dengan sihir kita. Dan saat itulah..."

Ia memiringkan kepala, lalu tertawa rendah, pelan, dan menusuk.

"...aku akan mengambil alih tubuhnya. Dan Lynx... akan menjadi milikku."

***

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Lynx segera membuat portal teleportasi menuju desa Surya dengan wajah muram dan cemas. Dia bingung bagaimana menjelaskan kegagalannya.

Portal yang dibuat Lynx terbuka tepat di dekat gerbang dimensi dunia kecil. Para penduduk yang berkumpul sudah mulai terbiasa saat melihatnya. Mereka tidak merasa heran lagi dengan kemunculan portal tersebut. Wajah mereka terlihat menegang dengan penuh harap. Mereka semua telah mengetahui apa yang terjadi dengan anggota keluarga mereka saat mengantarkan makanan sehingga kepanikan terjadi. Para penduduk saling berpelukan dan suara tangis terdengar dari berbagai penjuru desa.

"Kepala suku, apakah anda menemukan cara untuk menolong mereka?" tanya salah satu penduduk saat Lynx muncul di hadapan mereka.

"Kalian tenanglah. Aku pasti tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada mereka." Lynx berusaha terlihat tegar agar dapat menenangkan mereka. Tanpa menghiraukan pertanyaan para penduduk lainnya, dia memasuki gerbang dimensi untuk memeriksa keadaan.

Setibanya di dunia kecil, Lynx melihat Leena memegang tangan salah satu gadis yang terkena sihir dengan kedua tangannya. Ekspresinya tegang, matanya sembab, dan tubuhnya sedikit gemetar saat mencoba menyalurkan energi penyembuhan.

Lynx hanya dia berdiri dan memandang ke sekitarnya, wajahnya kelam. Para penduduk yang menjadi korban sihir terpasang infus di lengan mereka, dengan tubuh terikat di atas ranjang dan sebagian lainnya terikat di potongan kayu agar tidak bisa memberontak. Peralatan medis yang di gunakan Lala adalah perlengkapan milik tentara yang ada di dalam bangunan markas rahasia komandan Vex yang di pindahkan oleh Lynx ke dunia kecil.

Lala, Narendra dan para tetua yang melihat kedatangan Lynx segera datang mendekat.

“Aku gagal,” ucapnya lirih sebelum mereka bertanya, tapi suaranya menggema penuh tekanan. “Para penyihir itu sudah menduga kedatanganku. Mereka sudah menyiapkan duplikat mereka sebelum aku datang, dan sekarang mereka bersembunyi di tempat yang tak bisa ku ketahui.”

Leena menoleh cepat, tapi tidak mengatakan apa pun. Ia kembali fokus ke gadis yang mulai mengerang pelan, seperti menahan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan.

Lala menggelengkan kepala dengan wajah diliputi kesedihan “Tanda vital mereka semakin melemah,” katanya lirih,  “Kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.”

Lynx mendekat, berlutut di sisi mereka, lalu menaruh telapak tangan di salah satu pemuda. Ia mengalirkan energi saktinya ke dalam pemuda itu berharap bisa menetralisir pengaruh sihir. Namun tubuh mereka bukan hanya tercampur sihir biasa melainkan racun khusus yang sudah tertanam terlalu dalam, bercampur dengan kekuatan sihir, dan terus menelan kehidupan mereka perlahan-lahan.

Leena menggigit bibirnya, lalu berkata cepat, “Aku pernah mendengar tentang sebuah sekte di Benua Beihan... mereka punya kemampuan untuk menghentikan waktu. Orang-orang yang sekarat, kalau dibekukan oleh mereka, punya waktu untuk diselamatkan. Karena tubuh mereka... seolah dihentikan sepenuhnya dari kematian.”

Lynx menatapnya, dahi berkerut.

“Benua Beihan? Itu tempat kita menemukan pedang milik leluhur Xiao Tang... Bukankah kau bilang mereka bermusuhan dengan Benua Tianzhou? Bahkan penduduk desa yang kita temui saat itu terlihat takut dan marah saat mengetahui kita dari benua Tianzhou.”

Leena mengangguk pelan. “Benar... Tapi kita tidak punya pilihan lain. Selain itu jangan lupa, kita memang muncul di benua Tianzhou tapi bukan berarti kita penduduk asli disini. Kita bisa menyamar menyesuaikan diri dengan penduduk disana, masuk ke wilayah mereka, ke Kerajaan Fenglong. Di sanalah letak Sekte Pedang Es... satu-satunya yang bisa menghentikan waktu.”

Lala menganggukan kepala menyetujui Leena, "Lynx, Leena benar. Kita bisa merasa Jika menunggu lebih lama, mereka semua tidak akan bertahan lama."

"Berapa lama waktu yang kita punya ?" tanya Lynx dengan cemas.

"Dengan peralatan medis yang kumiliki saat ini, kurasa besok pagi sudah harus menemukan cara menangani mereka." Kata Lala dengan nada yakin. Dia harus percaya diri dengan kemampuannya mengingat hanya dia yang bisa diandalkan saat ini dan dia juga tidak bisa membuat para penduduk semakin khawatir.

Lynx memejamkan mata sejenak. Dia membutuhkan banyak informasi dan pendapat, namun sayangnya Kael dan Arkha sedang membantu tuan Zhen untuk mencari jejak Karim. Selain itu Lynx tidak yakin mereka memiliki informasi mengenai cara mengatasi sihir.

Akhirnya ia membuka matanya kembali, kali ini dengan sorot tekad membara.

“Kalau begitu, aku dan Leena akan pergi saat ini juga.” Ia menatap langit. “Bahkan jika perlu, jika Benua Beihan menghadangku, aku akan membuka jalan... dengan darah mereka.”

Leena menatapnya, tak berkata apa pun, hanya mengangguk dalam diam. Di belakang mereka, terdengar suara mengerang dari berbagai penjuru... dan waktu mereka terus menipis.

